Sejak beberapa dekade terakhir, diskursus tentang masa depan peradaban dunia menjadi topik yang cukup menarik untuk diperdebatkan oleh kalangan ilmuwan, mulai dari tesis Fukuyama tentang The End of History dimana Fukuyama menganggap bahwa mengguritanya sistem Kapitalisme yang mendunia, adalah sebuah kemenangan abadi dan inilah akhir dari sejarah pertarungan ideologi dunia, namun tesis Fukuyama kemudian dikritik oleh Samuel Huntington, yang menurutnya dewasa ini, meski bukan lagi benturan Ideologi yang terjadi (Kapitalisme vs Komunisme) namun benturan sudah beralih pada wilayah yang jauh lebih besar yakni benturan peradaban (clash of civilization) benturan yang dimaksud oleh Huntington adalah benturan oposisi biner antara peradaban Barat (AS dan Sekutunya) lawan Timur (dunia Islam).
Diskursus peradaban yang marak dewasa ini, ditengarai juga bukan sebuah diskursus yang bebas nilai, karena tema-tema itu terkesan timpang dan diselubungi oleh kepentingan bersifat politis-ideologis, dimana Barat selalu menampilkan diri sebagai peradaban yang superior namun Timur selalu dicorakkan sebagai peradaban inferior, hal inilah yang kemudian menjadi dasar penilaian, bahwa diskursus peradaban yang marak didengung-dengungkan dewasa ini mengalami cacat epistemologis(Listiyono, 2007:261).
Wajah Orientalisme
Kecenderungan wajah diskursus peradaban seperti itu semakin memperjelas kecurigaan bahwa, program orientalisme barat memang selalu diskrimintatif, dengan menganggap Barat sebagai yang ‘agung’ dan Timur sebagai yang ‘rendah’. Orientalisme pada dasarnya adalah seperangkat cara untuk memahami dunia Timur melalui kategori dan kajian ilmiah oleh Barat, namun sayangnya gaya ilmiah ini tidak bertujuan untuk merumuskan paradigma pembangunan dunia Timur, melainkan menjadi instrumen proyek eksploitasi dunia Timur bagi kepentingan Barat. Hal ini terjadi karena Barat menurut Edward Said(1979:262) selalu menggulirkan ego suprematif kulturalnya pada dunia Timur melalui kedok-kedok Ilmiah. Masih menurut Said, bahwa Orientalisme juga telah mengekspresikan dan menghadirkan ‘Timur’ secara kultural bahkan ideologis, sebagai suatu bentuk wacana dengan dukungan lembaga, kosa kata, keilmuwan, imajinasi, doktrin, bahkan birokrasi ala kolonial(Shimogaki,1993:47).
Melalui orientalisme, Barat juga melakukan penciptaan simbol-simbol atau istilah-istilah yang cenderung stigmatik dan diskrimitatif, separti ‘fundamentalisme’, ‘terbelakang’, ‘terorisme’, ‘dunia ketiga’ dan seterusnya(Listiyono,2007:264). Penciptaan simbol-simbol ini berlangsung secara terus-menerus, direproduksi dan dimasukkan secara paksa kedalam ruang kesadaran kognitif masyarakat dunia Timur, agar dunia Timur (Islam) merasakan efek minder bahkan memicu rasa agresifitas yang cenderung blunder bagi dunia Timur sendiri, akibat efek dari pencitraan ini.
Melalui orientalisme juga, Barat melakukan proyek kolonialisasi dan hegemoni kebudayaan, dimana nilai-nilai barat kemudian dijejalkan pada dunia timur lewat massifikasi penggunaan media dan teknologi, dunia Timur akhirnya terjebak seperti dalam istilah Hebert Marcuse sebagai Sublimasi Represif atau dapat diartikan sebagai, keadaan dimana cara kerja ideologi dan dominasi telah menggiring manusia pada ruang ketidaksadaran, bahwa diri manusia sedang direpresi oleh kekuatan destruktif tertentu. Tentunya kepentingan dari hegemoni kebudayaan tadi adalah dalam rangka melanggengkan kekuasaan kapitalisme barat sebagai tonggak kedigdayaan negara-negara Barat.
Kritik Hassan Hanafi
Salah satu intelektual dunia Islam yang banyak melontarkan kritik pedasnya pada praktek orientalisme adalah Hassan Hanafi, meski banyak pemikir lain yang tak kalah ’vokal’, seperti Muhammad Arkoun, Husein Nasr, atau Ali Enginer, namun Hassan Hanafi yang terlihat paling berpengaruh, apalagi ketika dia berhasil mencetuskan gagasannya tentang Kiri Islam (Al-yasar al-Islami), yang praktis membawa perdebatan khusus dan apresiasi hangat dari kalangan intelektual Barat yang kontra orientalisme serta banyak Intelektual muslim.
Hassan Hanafi menolak dengan keras proyek orientalisme yang justru mengakibatkan dunia Timur semakin kehilangan identitas dan spirit tradisi pembaruannya, karena Barat secara intensif menancapkan pengaruhnya untuk mendegradasikan nilai-nilai budaya timur, konsepsi keislaman, serta mengancam pembebasan peradaban Timur yang sedang dirundung konflik dan masalah kemanusiaan terus mnerus, dimana oknum Barat pun juga patut dijadikan terdakwa didalamnya.
Berdasarkan hal ini, kemudian Hassan hanafi mengutarakan gagasannya tentag Oksidentalisme: studi atas Barat (oksident) sebagai upaya untuk meghadapi tantangan orientalisme yang terlalu hegemonik, Hassan Hanafi menganggap bahwa mempelajari perkembangan pengetahuan Barat adalah sebuah keniscayaan untuk menghentikan mitos peradaban Barat yang diagung-agungkan dalam ruang ketidaksadaran dunia Timur. Oksidentalisme adalah ilmu sosial baru, berangkat dari sebuah dekonstruksi dan pembalikan paradigma, guna menanggulangi pengaruh orientalisme dan melucuti kekuasaan erosentrisme serta menebus kejahatan orientalisme (Shimogaki,1993:53-54).
Dalam mengutarakan kritiknya atas orientalisme, Hassan Hanafi juga tak lepas dari pemikiran Michael Foucault tentang teori Relasi Pengetahuan dan Kekuassan, dimana orientalisme dipandang sebagai fondasi pengetahuan, kemudian berelasi dengan upaya pembangunan kekuasaan oleh barat, meskipun kekuasaan dalam definisi Foucalut tidak berarti selalu identik dengan penindasan, namun lebih diartikan sebagai kekuasaan yang memproduksi kebenaran dan menjaga kebenaran itu, bila dihubungkan dengan orientalisme Hassan Hanafi memandang bahwa orientalisme adalah seperangkat pengetahuan yang digunakan barat untuk menjalankan kekuasaan, dominasi, atau hegemoni barat atas dunia Timur (Islam).
Dalam kerangka metodologis Kiri Islam, Hassan Hanafi juga meluruskan konsepsinya, dengan mengambil ajaran Islam yang paling fundamental yakni ajaran Tauhid. Tauhid sering dipahami oleh banyak orang sebagai keesaan tuhan, tapi menurut Hanafi, Tauhid harus dipandang sebagai sebuah ‘penyatuan’ (unifikasi) (Shimogaki,1993:22). Sebagaimana diketahui bahwa Islam adalah agama yang mencakup segala tatanan aspek kehidupan, baik material, mental sekaligus ketuhanan, dengan memandang Tauhid sebagai sebuah penyatuan, maka konsespsi Tauhid tidak hanya bersifat vertikal ketuhanan, tetapi juga mencakup hubungan horizontal dalam realitas kemanusiaan, konsepsi Tauhid pun harus melembaga dalam terwujudnya tatanan sosial, politik, ekonomi, yang berkesatuan, atau yang lebih tepatnya sebagai sistem yang egalitarian bagi semua manusia.
Semangat Kiri Islam yang diketengahkan oleh Hassan Hanafi juga bisa dilihat sebagai upaya yang cukup revolusionis, dimana pada dasarnya Hassan Hanafi mengharapkan bahwa, dunia Islam sudah saatnya untuk lebih mengembangkan wawasan progresif dengan spirit pembebasan. Hassan Hanafi juga berusaha-meski tidak menafikan barat-paling tidak sebagai upaya untuk membangun kesederajatan hubungan antar manusia tanpa batas identitas, terutama mengangkat derajat dunia Islam agar tidak dipandang sebelah mata.
Filed under: Uncategorized | Leave a Comment »