Pemilihan Umum tahun 2009 sudah tak lama lagi, sekitar lima bulan ke depan, kinipun para kandidat politik, baik personal maupun partai politik, sudah mulai berupaya mengukuhkan eksistensinya dalam persepsi publik, disinilah media massa menjadi aktor utama sebagai fasilitator proyek massifikasi diri yang dilakukan oleh para kandidat politik tersebut
Kini pun hampir disetiap ruang-ruang dengar, lihat dan baca khalayak, sering kita dengar atau jumpai figur-figur politik yang menyampaikan visi-misi politik dengan singkat dan padat, yang dibungkus dalam bentuk ‘iklan politik’, Namur yang menjadi masalah kemudian, jika visi misi dan program kerja politik yang sebenarnya komprehensif dan urgensinya sangat tinggi, karena berhubungan langsung dengan kepentingan rakyat, justru sering simplifikasikan dan dikemas dengan gaya menarik ala advertise dalam iklan politik.
Jika iklan politik masih ada dalam tataran proporsional, bisa ditengarai akan bermanfaat untuk-setidaknya-memperkenalkan kepada Publik, siapa-siapa saja yang akan maju menjadi calon pemimpin. Namur jika gaya simplistas iklan politik menjadi sangat dominan dalam media dan ruang-ruang publik, bukankah hal ini justru akan mereduksi komprehensi, dan pentingnya sosialisasi tentang upaya-upaya atau langkah politik seperti apa yang ditawarkan dan akan dijalankan oleh kandidat politik itu?, dan tentunya resiko terjadinya artifisialitas pilihan publik semakin tinggi, karena media berkorelasi langsung dengan pembentukan opini publik.
Bangkitnya Citra
Pada dasarnya iklan politik sudah menjadi titik sentral dalam upaya komunikasi politik dari kandidat politik kepada khalayak, singkatnya hanya dengan iklan politik saja dalam kemasan yang semenarik dan se simple mungkin, kandidat politik akan dengan mudah menjaring aspirasi dan dukungan publik. Disinilah bisa ditengarai bahwa ada manfaat terbesar yang didapat oleh kandidat politik yakni, bangkitnya citra diri dan kepercayaan khalayak kepada kandidat politik tersebut.
Sebagai contoh hal ini benar-benar terjadi, katakanlah ketika tahun 1999 terpilihnya Presiden Amerika ‘Bill Clinton’ dinilai Sangay dipengaruhi oleh pencitraan media lepada Clinton, dimana dia dinilai sebagai sosok Muda, Lugas, dan Radikal (Mc Nair:199, 100), ataupun di Indonesia, sosok-sosok pemimpin Negara juga tak lepas dari pencitraan media yang kemudian mempengaruhi tingkat popularitasnya di mata publik.
Hasil survey dari NLC (National Leadership Center) bulan September (Gatra.com), sempat menempatkan sosok prabowo subianto, dalam peringkat ketiga calon presiden yang paling digemari oleh publik.hal ini dinilai tak lepas dari upaya prabowo sendiri yang gencar melakukan persuasi politik melalui media yang dikemas dalam iklan politik. Memang tak hanya sosok Prabowo yang gencar tampil dalam iklan politik, tapi banyak sosok lain, seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Sutrisno Bachir, Wiranto dan Rizal Malarangeng, namun Prabowolah yang dinilai paling bisa menumbuhkan citra dirinya guna menjaring simpati publik.
Ditengah menjamurnya iklan-iklan politik di media massa, yang praktis juga mempengaruhi persepsi politis publik, bisa jadi iklan politik pun juga akan menjadi faktor determinan dalam mempengaruhi preferensi politik masyarakat dalam pemilu 2009 nanti. Jika di Amerika Serikat, disamping iklan-iklan politik juga turut menjadi aspek utama dalam menentukan persepsi politis publik, ada pula agenda-agenda yang cukup signifikan dalam upaya menjaring aspirasi publik, yakni dengan agenda dialog-dialog ataupun debat yang rasional baik antar kandidat politiknya maupun dari kandidat kepada kahalayak.
Rendahnya Rasionalitas Masyarakat
Jika upaya-upaya kampanye politik dialogis mempunyai peran signifikan di AS dan para konstituennya rata-rata adalah pemilih aktif dan rasional, hal ini dirasa cukup wajar, karena memang pola berfikir rasional masyarakat AS cukup tinggi, dibanding dengan di Indonesia, yang notabene sebagian besar masyarakatnya masih cukup awam dalam masalah politik dan rata-rata didominasi oleh pemilih pasif, jadi bisa disimpulkan bahwa, upaya-upaya kampanye yang lebih berbobot, seperti program-program debat maupun dialog yang rasional oleh para kandidat politik, tidak mempunyai peran cukup signifikan dalam rangka menentukan arah preferensi politik masyarakat kita.
Rendahnya tingkat rasionalitas masyarakat dalam menentukan arah keberpihakan politiknya, sangat dipengaruhi oleh masalah-masalah tertentu yang cukup fundamental, yang pertama, pengaruh dari faktor pendidikan masyarakat kita yang masih cukup rendah, kedua, masyarakat kita juga mengalami masalah serius dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup yang semakin sulit, sehingga mereka cenderung aprori dalam masalah politik, dan yang ketiga adalah, pengaruh media yang masih sangat dominan, atau boleh dikata media bisa menjadi sihir yang sangat dipercayai masyarakat sebagai representasi sebuah kebenaran.
Ditengah tingkat rasionalitas memilih masyarakat masih sangat rendah, iklan politik pun seolah menjadi jalan pintas dalam menentukan arah keberpihakan politis masyarakat, dimana iklan politik pun sebenarnya tidak bisa dijadikan ukuran mutlak dalam menilai tingkat integritas maupun kapasitas kandidat politik yang ada. Karena integritas maupun kapasitas kandidat politik bisa dinilai secara lebih objektif, jika kita melihat atau mendengarkan langsung argumen-argumen, tentang visi misi maupun program kerja yang dia tawarkan secara rasional dan komprehensif melalui forum yang dialogis, guna meminimalisir tindak upaya manipulasi, sedangkan jika hanya mengandalkan iklan politik, hal ini dirasa sangat rentan dan bias upaya manipulasi, serta dinilai kurang representatif dalam menunjukkan kapasitas maupun integritas kandidat politik tersebut.
Rakyat Belum Siap Berdemokrasi
Filsuf Karl R Popper (Paskalis,2001) dalam penilaiannya tentang Demokasi, dia menganggap bahwa salah satu elemen terpenting dari tercapainya iklim demokratis adalah, keterbukaan pada munculnya kritik-kritik dan penilaian rasional dari rakyat untuk pemerintah, namun realita di negeri ini sugguh berbeda, negeri ini belum sepenuhnya demokratis, meskipun iklim keterbukaan sudah mulai muncul pasca runtuhnya Orde Baru, namun suara-suara rasional dari rakyat masih belum muncul secara maksimal, hal ini juga dikarenakan pola berfikir rasional masyarakat kita masih cukup rendah.
Pola berfikir rasional dalam menentukan keberpihakan politik dari masyarakat adalah hal yang teramat penting, sebab arah pembangunan bangsa kedepan akan sangat ditentukan oleh masyarakat, dengan memilih siapa yang dia percaya guna memimpin Negara ini, namun ketika tingkat rasionalitas masyarakat dalam menentukan pilihan masih rendah, apalagi faktor kampanye melalui media masih sangat dominan, maka bisa dikatakan bahwa pemimpin Negara kedepan, lebih tepatnya bukan ditentukan oleh masyarakat, tapi ditentukan oleh media, yang dengan perkasa bisa turut membentuk preferensi politik masyarakat.
Dalam atmosfer demokrasi dewasa ini, dimana rakyat telah sepenuhnya diberikan kewenangan untuk menentukan pilihan politik dalam Pemilihan Umum, maka sebenarnya yang harus terlebih dahulu dilakukan adalah, bagaimana seharusnya pemerintah berupaya secara intensif untuk melakukan upaya-upaya edukatif, guna mengembangkan tingkat rasionalitas masyarakat dalam memilih kandidat politik, disamping itu pemerintah pun juga harus konsisten dalam menjalankan upaya-upaya pengentasan masalah kemiskinan, dalam arti sebisa mungkin warga kita tidak lagi melulu terjebak dalam kesulitan pemenuhan kebutuhan pokoknya, karena ketika pemenuhan kebutuhan pokok semakin mudah, maka minat warga dalam masalah politik dan dikursus pengembangan bangsa kedepan akan semakin mudah untuk ditransformasikan.
Filed under: Uncategorized